Istilah "kompleks inferior" sudah masuk ke bahasa sehari-hari. Kita memakainya untuk teman yang selalu merasa kalah, atau untuk orang yang terlalu sibuk membuktikan diri. Istilah itu berakar pada pemikiran Alfred Adler, dokter asal Wina yang pernah menjadi salah satu anggota awal lingkaran Freud.
Seperti Jung, Adler kita tempatkan dalam kategori Di Luar 7 Sekolah. Ia berpisah dari Freud pada 1911 dan membangun aliran sendiri, psikologi individual, yang lebih menekankan tujuan dan relasi sosial daripada dorongan seksual.
Kalau hanya ingat satu hal: bagi Adler, perilaku manusia paling mudah dipahami dari tujuan yang dikejarnya, dan ukuran kesehatan jiwa adalah seberapa besar kepedulian seseorang pada sesama.
Kartu Identitas
| Nama lengkap | Alfred Adler |
|---|---|
| Lahir | 7 Februari 1870, Rudolfsheim, dekat Wina, Austria |
| Wafat | 28 Mei 1937, Aberdeen, Skotlandia |
| Asal/kota kerja | Wina; kemudian New York |
| Sekolah (peta IPI) | Di luar 7 sekolah; pendiri psikologi individual |
| Karya kunci | Studie über Minderwertigkeit von Organen (1907); Über den nervösen Charakter (1912); Menschenkenntnis (1927; Understanding Human Nature); What Life Should Mean to You (1931) |
Riwayat Singkat
Adler lahir di keluarga Yahudi kelas menengah di pinggiran Wina. Masa kecilnya diwarnai sakit-sakitan, pengalaman yang sering dikaitkan dengan minatnya kelak pada kelemahan dan kompensasi. Ia belajar kedokteran di Universitas Wina dan berpraktik sebagai dokter umum, dengan perhatian pada kondisi sosial pasiennya.
Pada 1902 Freud mengundangnya ke kelompok diskusi Rabu, cikal bakal Masyarakat Psikoanalisis Wina. Adler bahkan sempat menjadi ketua masyarakat itu pada 1910. Namun perbedaan pandangan makin tajam: Adler menolak menempatkan seksualitas sebagai pusat, dan lebih menekankan dorongan untuk mengatasi rasa inferior. Pada 1911 ia keluar bersama sejumlah pengikut dan mendirikan kelompok sendiri, yang kemudian dinamai Masyarakat Psikologi Individual.
Setelah Perang Dunia I, Adler aktif mendirikan klinik bimbingan anak di Wina dan melatih guru. Pada 1930-an ia makin sering mengajar di Amerika Serikat dan akhirnya menetap di New York. Ia wafat mendadak pada 1937 saat tur ceramah di Aberdeen, Skotlandia.
Gagasan Kunci
Perasaan Inferior dan Kompensasi
Versi awam: setiap orang pernah merasa kecil, kurang, atau tertinggal. Perasaan itu bukan aib; ia justru bisa menjadi bahan bakar untuk berkembang.
Versi teknis: Adler berangkat dari studinya tentang organ yang lemah dan bagaimana tubuh mengompensasinya. Ia memperluasnya ke ranah psikis: perasaan inferior (inferiority feeling) adalah pengalaman universal karena setiap anak lahir kecil dan bergantung. Respons sehat adalah kompensasi (compensation) yang mengarah pada penguasaan dan kontribusi. Jika perasaan inferior menjadi berlebihan dan melumpuhkan, Adler menyebutnya kompleks inferioritas; jika ditutupi dengan kesombongan, muncullah kompleks superioritas.
Gaya Hidup
Versi awam: sejak kecil, kita diam-diam menyimpulkan "dunia itu seperti apa, dan aku harus bagaimana supaya aman". Kesimpulan itu lalu mewarnai banyak keputusan kita.
Versi teknis: gaya hidup (style of life) adalah pola unik yang terbentuk pada tahun-tahun awal kehidupan, berisi keyakinan tentang diri, orang lain, dan dunia, serta strategi untuk mencapai tujuan. Bagi Adler, kepribadian adalah satu kesatuan yang terarah, bukan kumpulan bagian yang saling bertentangan. Itulah arti kata "individual": individu yang tak terbagi.
Minat Sosial (Gemeinschaftsgefühl)
Versi awam: orang yang sehat jiwanya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan ingin ikut berkontribusi.
Versi teknis: minat sosial (Gemeinschaftsgefühl, social interest) adalah rasa keterhubungan dan kepedulian terhadap komunitas manusia. Adler menjadikannya ukuran utama kesehatan jiwa. Menurutnya, banyak gangguan neurotik adalah upaya mencapai superioritas pribadi tanpa minat sosial. Ia juga menyebut tiga tugas hidup yang harus dihadapi setiap orang: pekerjaan, persahabatan dan komunitas, serta cinta.
Urutan Kelahiran
Adler memperhatikan bahwa posisi anak dalam keluarga ikut membentuk gaya hidup. Anak sulung bisa merasa "tergeser" saat adik lahir, anak tengah bisa bersaing keras, anak bungsu bisa dimanja atau sangat ambisius. Perlu dicatat, Adler melihat ini sebagai kecenderungan situasi psikologis, bukan takdir. Penelitian modern tentang pengaruh urutan kelahiran terhadap kepribadian juga menemukan efek yang kecil dan tidak konsisten.
Finalisme Fiktif
Versi awam: kita sering hidup seolah-olah ada tujuan tertentu yang pasti, misalnya "kalau aku sempurna, aku akan dicintai", meski tujuan itu tak pernah terbukti.
Versi teknis: terinspirasi filsafat "seolah-olah" Hans Vaihinger, Adler menyebut finalisme fiktif (fictional finalism): tujuan rekaan yang mengarahkan perilaku kita. Tujuan ini fiktif bukan karena salah, melainkan karena berupa konstruksi batin, dan ia lebih menjelaskan perilaku daripada sebab masa lalu.
Sumbangan untuk Memahami Kepribadian
Dalam Paradigma Kepribadian, Adler menawarkan cara pandang yang menghadap ke depan: kepribadian dipahami dari tujuannya, dan dibentuk dalam konteks sosial. Banyak gagasannya, misalnya peran keyakinan dalam membentuk perilaku dan pentingnya relasi sosial, kemudian bergema dalam terapi kognitif dan psikologi humanistik, meski Adler jarang disebut sebagai sumbernya.
Dalam Keseharian dan Ruang Praktik
Contoh sehari-hari. Seorang mahasiswa selalu menunda tugas, lalu berkata "kalau saya serius, pasti bisa". Dari kacamata Adler, menunda bisa melindungi tujuan fiktif "aku sebenarnya hebat" dari ujian kenyataan.
Ilustrasi klinis (ilustrasi rekaan). Seorang ibu muda merasa harus selalu menolong semua orang dan kelelahan. Terapis Adlerian menelusuri ingatan masa kecilnya dan menemukan keyakinan "aku hanya berharga kalau berguna". Terapi membantunya membedakan kepedulian yang tulus dari upaya membayar rasa tak berharga.
Posisi dalam Peta Psikoanalisis
- Pengaruh: Freud dan lingkaran Wina, filsafat Hans Vaihinger.
- Lawan debat: Freud, yang menilai teori Adler sebagai psikologi permukaan; Carl Jung berpisah dari Freud dengan arah yang berbeda.
- Penerus: Rudolf Dreikurs, yang membawa pendekatan Adler ke pendidikan dan pengasuhan; Heinz dan Rowena Ansbacher, penyusun antologi karya Adler.
Istilah Penting
- Psikologi individual (individual psychology)
- Aliran Adler yang memandang individu sebagai kesatuan yang terarah pada tujuan.
- Kompleks inferioritas (inferiority complex)
- Perasaan inferior yang berlebihan dan melumpuhkan.
- Gaya hidup (style of life)
- Pola keyakinan dan strategi hidup yang terbentuk sejak kecil.
- Minat sosial (Gemeinschaftsgefühl)
- Rasa keterhubungan dan kepedulian pada sesama, ukuran kesehatan jiwa.
- Finalisme fiktif (fictional finalism)
- Tujuan rekaan yang mengarahkan perilaku.
Saran Bacaan
- Primer, ramah pemula: Alfred Adler, Understanding Human Nature (Menschenkenntnis, 1927).
- Primer: Alfred Adler, What Life Should Mean to You (1931).
- Antologi: Heinz L. Ansbacher dan Rowena R. Ansbacher (peny.), The Individual Psychology of Alfred Adler (1956).
- Biografi: Edward Hoffman, The Drive for Self: Alfred Adler and the Founding of Individual Psychology (1994).
Baca Juga
- Carl Gustav Jung: Arketipe, Bayangan, dan Jalan Individuasi
- Sigmund Freud: Bapak Psikoanalisis dan Peta Pertama Jiwa Manusia
- Tokoh-Tokoh Psikoanalisis Klasik: Abraham, Ferenczi, Jones, Rank, Eitingon
- Peta Tokoh Psikoanalisis: Tujuh Sekolah, Satu Garis Waktu
Ditulis oleh Ade Machnun untuk Belajar Psikoanalisis. Seri Tokoh Psikoanalisis.
No comments:
Post a Comment