Pernahkah Anda salah menyebut nama pasangan dengan nama mantan, lalu buru-buru berkata "maksudku bukan begitu"? Atau bermimpi aneh yang terasa bermakna tetapi sulit dijelaskan? Lebih dari seabad lalu, seorang dokter saraf di Wina menganggap hal-hal kecil seperti itu bukan kebetulan. Menurutnya, di situlah bagian jiwa yang tidak kita sadari sedang "berbicara".
Dokter itu adalah Sigmund Freud. Hampir semua orang pernah mendengar namanya, tetapi tidak banyak yang benar-benar tahu apa yang ia katakan. Sebagian gagasannya telah direvisi, sebagian lagi ditolak, namun bahasa yang ia ciptakan masih dipakai oleh semua sekolah psikoanalisis sampai hari ini. Memahami Freud ibarat mempelajari tata bahasa sebelum membaca sastra.
Kalau hanya ingat satu hal: Freud mengajarkan bahwa sebagian besar kehidupan batin kita berlangsung di luar kesadaran, dan bahwa gejala, mimpi, serta kekeliruan sehari-hari adalah jejak konflik batin yang bisa dibaca maknanya.
Kartu Identitas
| Nama lengkap | Sigismund Schlomo Freud (kemudian Sigmund Freud) |
|---|---|
| Lahir | 6 Mei 1856, Freiberg, Moravia (kini Příbor, Republik Ceko) |
| Wafat | 23 September 1939, London, Inggris |
| Asal/kota kerja | Wina (hampir seumur hidup), London (1938–1939) |
| Sekolah (peta IPI) | Psikoanalisis Klasik (pendiri) |
| Karya kunci | Die Traumdeutung (1900); Drei Abhandlungen zur Sexualtheorie (1905); Jenseits des Lustprinzips (1920); Das Ich und das Es (1923) |
Riwayat Singkat
Freud lahir dalam keluarga Yahudi berbahasa Jerman. Ketika ia berusia sekitar empat tahun, keluarganya pindah ke Wina. Ia belajar kedokteran di Universitas Wina dan lulus pada 1881. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai peneliti di laboratorium fisiologi Ernst Brücke, meneliti sistem saraf. Dari sana ia mewarisi keyakinan bahwa gejala jiwa pun mengikuti hukum sebab-akibat.
Titik balik datang pada 1885–1886, ketika Freud belajar di Paris pada neurolog Jean-Martin Charcot. Charcot menunjukkan bahwa histeria bisa ditimbulkan dan dihilangkan lewat hipnosis, sehingga gejalanya tampak berkaitan dengan gagasan, bukan kerusakan saraf. Sepulang ke Wina, Freud bekerja sama dengan dokter senior Josef Breuer. Kasus "Anna O.", pasien Breuer, memperlihatkan bahwa gejala bisa mereda ketika pasien menceritakan kenangan yang menyakitkan. Hasil kerja sama mereka terbit sebagai Studien über Hysterie (1895).
Freud lalu meninggalkan hipnosis dan beralih ke metode asosiasi bebas. Setelah ayahnya wafat pada 1896, ia melakukan analisis diri yang intens, banyak tertuang dalam surat-suratnya kepada sahabatnya, Wilhelm Fliess. Buah dari periode ini adalah Die Traumdeutung, yang terbit akhir 1899 dengan tahun cetak 1900.
Sejak 1902, Freud menggelar diskusi mingguan di rumahnya yang kelak menjadi Masyarakat Psikoanalisis Wina. Pada 1909 ia memberi kuliah di Clark University, Amerika Serikat, dan pada 1910 berdirilah Asosiasi Psikoanalisis Internasional (IPA). Perpecahan dengan Alfred Adler (1911) dan Carl Jung (1913) mendorong terbentuknya lingkar loyalis yang dikenal sebagai "Komite Rahasia".
Sejak 1923 Freud menderita kanker rahang dan menjalani puluhan operasi, tetapi tetap menulis dan menerima pasien. Ketika Nazi menganeksasi Austria pada 1938, ia mengungsi ke London bersama keluarganya, dibantu antara lain oleh Ernest Jones dan Marie Bonaparte. Ia wafat di sana pada 23 September 1939.
Gagasan Kunci
1. Ketaksadaran dan model topografis
Bayangkan jiwa seperti rumah. Ada ruang tamu yang terang (kesadaran), ada lemari yang bisa dibuka kapan saja (prasadar), dan ada gudang terkunci yang isinya terus mendesak keluar (ketaksadaran). Kita tidak bisa sekadar memutuskan untuk masuk ke gudang itu, tetapi isinya ikut mewarnai suasana rumah.
Secara teknis, dalam bab ketujuh Die Traumdeutung Freud membedakan sistem Sadar (Bw), Prasadar (Vbw), dan Taksadar (Ubw). Ketaksadaran bekerja dengan proses primer (primary process): tidak mengenal waktu, kontradiksi, maupun logika, dan memakai pemadatan (condensation) serta pemindahan (displacement). Represi (repression) menjaga agar isi yang mengancam tetap berada di sana. Mimpi, salah ucap, dan gejala adalah "jalan pintas" isi taksadar menuju kesadaran dalam bentuk yang tersamar.
2. Dorongan dan perkembangan psikoseksual
Freud percaya bahwa sejak bayi manusia sudah digerakkan oleh dorongan yang mencari kenikmatan. Kata "seksual" di sini jauh lebih luas daripada hubungan seks orang dewasa; ia mencakup segala kenikmatan tubuh, seperti menyusu atau menahan dan melepaskan buang air.
Dalam Drei Abhandlungen (1905) dan revisi-revisinya, Freud menyusun tahap perkembangan libido: oral, anal, falik, laten, dan genital. Pada tahap falik muncul kompleks Oedipus (Oedipus complex): hasrat terhadap orang tua dan persaingan dengan orang tua lainnya, yang penyelesaiannya membentuk superego. Teori dorongannya sendiri berubah: mula-mula dorongan seksual versus dorongan pemeliharaan diri, lalu sejak Jenseits des Lustprinzips (1920) menjadi dorongan hidup (Eros) versus dorongan mati (Todestrieb). Gagasan dorongan mati termasuk yang paling diperdebatkan, bahkan di kalangan pengikutnya.
3. Model struktural: id, ego, superego
Model topografis ternyata kurang memadai. Freud menemukan bahwa sebagian pertahanan ego pun berlangsung tanpa disadari. Maka pada 1923, dalam Das Ich und das Es, ia memperkenalkan model baru yang lebih mirip "tiga pihak dalam perundingan".
- Id (das Es, "si itu")
- Wadah dorongan, ingin segera dipuaskan, tunduk pada prinsip kesenangan.
- Ego (das Ich, "aku")
- Penengah yang berhubungan dengan kenyataan, mengatur, menunda, dan membela diri.
- Superego (das Über-Ich, "aku-di-atas")
- Hati nurani dan ideal, hasil internalisasi larangan dan harapan orang tua.
Ego, kata Freud, harus melayani tiga "tuan" sekaligus: id, superego, dan dunia luar. Ungkapan terkenalnya dari 1933, "Wo Es war, soll Ich werden" (di mana id dulu berada, di sana ego harus hadir), sering dibaca sebagai tujuan analisis. Lacan kelak menafsirkan ulang kalimat ini secara sangat berbeda.
4. Kecemasan, konflik, dan mekanisme pertahanan
Ketika keinginan bertabrakan dengan larangan, kita merasa cemas, lalu jiwa mencari cara untuk meredakannya. Melupakan, menyalahkan orang lain, atau tiba-tiba bersikap sangat manis kepada orang yang kita benci adalah contoh cara-cara itu.
Dalam Hemmung, Symptom und Angst (1926), Freud merevisi teorinya: kecemasan kini dipahami sebagai sinyal bahaya (signal anxiety) yang memicu ego menjalankan pertahanan. Represi hanyalah salah satunya; Freud juga membahas proyeksi, pembentukan reaksi (reaction formation), isolasi, dan pembatalan (undoing). Gejala neurotik dipahami sebagai formasi kompromi antara dorongan dan pertahanan. Sistematisasi mekanisme pertahanan kemudian dilanjutkan putrinya, Anna Freud, pada 1936.
5. Asosiasi bebas dan transferensi
Metode Freud terdengar sederhana: pasien diminta mengatakan apa saja yang terlintas di pikiran, tanpa menyaring. Justru di tempat cerita tersendat, berbelok, atau terasa "tidak penting", analis menemukan jejak konflik.
Asosiasi bebas (free association) berpasangan dengan perhatian yang mengambang rata (evenly suspended attention) dari analis. Lambat laun Freud menemukan bahwa pasien mengalihkan perasaan dan pola relasi lamanya kepada analis. Inilah transferensi (transference). Pada kasus "Dora" (terbit 1905) ia melihatnya sebagai hambatan, tetapi dalam tulisan teknik sekitar 1912–1915 transferensi menjadi alat utama terapi. Perlawanan (resistance) pun tidak lagi dianggap gangguan, melainkan bahan analisis.
Sumbangan untuk Memahami Kepribadian
Dalam Paradigma Kepribadian, Freud menyumbang dua hal yang tidak tergantikan. Pertama, metapsikologi (metapsychology): cara memandang jiwa dari sudut topografis (sadar-taksadar), dinamis (konflik antarkekuatan), ekonomis (distribusi energi), dan kemudian struktural (id-ego-superego). Setiap sekolah sesudahnya, entah menerima, merevisi, atau menolak, tetap berbicara dalam kerangka ini. Psikologi Ego memperluas sudut struktural, Klein memperdalam sudut dinamis pada bayi, Kohut mempertanyakan sudut dorongan, dan Lacan membaca ulang topografi lewat bahasa.
Kedua, tipe karakter. Dalam "Charakter und Analerotik" (1908), Freud mengamati bahwa orang yang teratur, hemat, dan keras kepala sering memiliki riwayat kenikmatan anal yang khas. Dari sini lahir gagasan bahwa karakter adalah endapan dari cara seseorang melewati, atau tertambat pada, tahap perkembangan:
- Karakter oral: bergantung, haus perhatian, atau sebaliknya sinis dan "suka menggigit"; dikembangkan lebih lanjut oleh Karl Abraham.
- Karakter anal: rapi, kikir, keras kepala, atau sebaliknya berantakan dan boros.
- Karakter falik: percaya diri, kompetitif, pamer, sensitif terhadap kekalahan.
Tipologi ini kini dipakai lebih hati-hati, tetapi intinya bertahan: kepribadian dipahami sebagai pola khas penyelesaian konflik yang terbentuk dalam sejarah perkembangan.
Dalam Keseharian dan Ruang Praktik
Contoh sehari-hari. Seorang karyawan selalu "lupa" mengirim laporan untuk atasan yang sering mempermalukannya, padahal ia tidak pernah lupa tugas lain. Dalam kacamata Freud, lupa yang selektif ini bisa jadi kemarahan yang tidak berani diungkapkan langsung, keluar sebagai tindakan keliru (parapraxis).
Ilustrasi klinis (ilustrasi rekaan). Seorang mahasiswa datang dengan keluhan cemas setiap menjelang ujian, walau nilainya baik. Dalam asosiasi bebas, ia berulang kali menyinggung ayahnya yang gagal kuliah. Suatu sesi, ia marah karena analis terlambat dua menit, lalu terkejut sendiri oleh kemarahannya. Perlahan muncul makna: berhasil berarti "mengalahkan" ayah, dan itu memicu rasa bersalah. Kecemasan ujian adalah kompromi antara keinginan berhasil dan hukuman superego. Kemarahan kepada analis menjadi pintu transferensi untuk menjelajahi relasi itu.
Posisi dalam Peta Psikoanalisis
Guru dan pengaruh: Ernst Brücke (fisiologi), Jean-Martin Charcot (histeria), Josef Breuer (metode katarsis), dan dialog panjang dengan Wilhelm Fliess. Dari sastra dan filsafat, Freud banyak menimba dari Sophocles, Shakespeare, dan Goethe.
Kawan dan lawan debat: Lingkar terdekatnya mencakup Karl Abraham, Sándor Ferenczi, Ernest Jones, Otto Rank, dan Max Eitingon. Perpisahan paling terkenal terjadi dengan Alfred Adler dan Carl Jung.
Penerus: Semua sekolah dalam peta tokoh psikoanalisis adalah ahli waris Freud. Anna Freud dan Heinz Hartmann melanjutkan model struktural; Melanie Klein melanjutkan sisi dorongan dan fantasi; Jacques Lacan menyerukan "kembali ke Freud".
Kritik: Freud dikritik karena teorinya sulit diuji secara empiris, karena pandangannya tentang perempuan (misalnya konsep iri penis), dan karena keputusannya pada 1897 meninggalkan "teori rayuan" yang menurut sebagian pengkritik membuat trauma nyata kurang diperhatikan. Para pembelanya menjawab bahwa banyak konsep inti, seperti proses taksadar dan mekanisme pertahanan, kini didukung riset psikologi dan ilmu saraf, meski dalam bahasa berbeda. Kritik semacam ini layak dibaca berdampingan dengan karya Freud sendiri.
Istilah Penting
- Ketaksadaran (das Unbewusste)
- Wilayah jiwa yang isinya tidak dapat diakses kesadaran secara langsung tetapi tetap memengaruhi perilaku.
- Represi (Verdrängung)
- Pertahanan dasar yang menjauhkan gagasan yang mengancam dari kesadaran.
- Libido
- Energi dorongan seksual dalam arti luas, sumber kenikmatan dan keterikatan.
- Kompleks Oedipus
- Konstelasi hasrat dan persaingan anak terhadap orang tua pada tahap falik; poros pembentukan superego.
- Formasi kompromi (compromise formation)
- Hasil gabungan antara dorongan dan pertahanan, misalnya gejala atau mimpi.
- Transferensi
- Pengalihan pola perasaan dan relasi masa lalu kepada analis.
- Metapsikologi
- Kerangka teoretis Freud untuk menjelaskan jiwa dari sudut topografis, dinamis, ekonomis, dan struktural.
Saran Bacaan
- Sigmund Freud, Die Traumdeutung (1900); terjemahan Inggris The Interpretation of Dreams.
- Sigmund Freud, Vorlesungen zur Einführung in die Psychoanalyse (1916–1917); Introductory Lectures on Psycho-Analysis. Titik masuk terbaik dari tangan Freud sendiri.
- Sigmund Freud, Das Ich und das Es (1923); The Ego and the Id.
- Peter Gay, Freud: A Life for Our Time (1988). Biografi yang enak dibaca dan seimbang.
- Anthony Storr, Freud: A Very Short Introduction (Oxford, 1989; edisi seri VSI 2001). Pengantar singkat untuk pemula.
Baca Juga
- Peta Tokoh Psikoanalisis
- Tokoh-Tokoh Psikoanalisis Klasik: Abraham, Ferenczi, Jones, Rank, Eitingon
- Anna Freud
- Carl Jung
Ditulis oleh Ade Machnun untuk Belajar Psikoanalisis. Seri Tokoh Psikoanalisis.
No comments:
Post a Comment