Kalau psikoanalisis hanya membahas konflik, bagaimana kita menjelaskan seorang anak yang belajar berjalan, mengingat nama teman, atau memahami bahwa api itu panas? Kemampuan-kemampuan ini tidak lahir dari pertengkaran antara dorongan dan larangan. Ia tumbuh begitu saja, asalkan lingkungannya cukup mendukung.
Pertanyaan sederhana inilah yang digarap Heinz Hartmann, psikiater dan psikoanalis asal Wina yang sering disebut "bapak psikologi ego". Ia ingin psikoanalisis tidak hanya menjadi teori tentang gangguan, tetapi juga teori umum tentang bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan dunianya. Pengaruhnya di Amerika Serikat begitu besar sehingga selama sekitar dua dekade setelah Perang Dunia II, psikologi ego hampir identik dengan psikoanalisis Amerika.
Kalau hanya ingat satu hal: bagi Hartmann, ego bukan hanya penengah konflik, tetapi juga organ adaptasi yang sejak lahir membawa kemampuan bawaan, seperti persepsi, ingatan, dan gerak, yang berkembang di luar konflik.
Kartu Identitas
| Nama lengkap | Heinz Hartmann |
|---|---|
| Lahir | 4 November 1894, Wina, Austria-Hongaria |
| Wafat | 17 Mei 1970, Stony Point, New York, Amerika Serikat |
| Asal/kota kerja | Wina, lalu Paris dan Swiss (1938–1941), kemudian New York |
| Sekolah (peta IPI) | Psikologi Ego |
| Karya kunci | Grundlagen der Psychoanalyse (1927); Ich-Psychologie und Anpassungsproblem (1939; terjemahan Inggris Ego Psychology and the Problem of Adaptation, 1958); Essays on Ego Psychology (1964) |
Riwayat Singkat
Hartmann tumbuh di keluarga intelektual Wina. Ia belajar kedokteran di Universitas Wina, lalu bekerja di klinik psikiatri yang dipimpin Julius Wagner-Jauregg. Minatnya luas, mencakup filsafat ilmu dan ilmu sosial, dan hal ini terlihat dalam bukunya Grundlagen der Psychoanalyse (1927), yang membahas dasar-dasar metodologis psikoanalisis sebagai ilmu.
Analisis pribadinya dimulai dengan Sándor Radó di Berlin. Belakangan Sigmund Freud sendiri menawarinya analisis, dan Hartmann menjadi salah satu murid muda yang sangat dihargai Freud. Pada 1937 ia menyampaikan gagasan tentang ego dan adaptasi di Perkumpulan Psikoanalisis Wina; versi lengkapnya terbit sebagai monografi pada 1939.
Aneksasi Austria oleh Nazi pada 1938 memaksanya pergi. Ia singgah di Paris dan Swiss sebelum menetap di New York pada 1941. Di sana ia menjadi tokoh sentral New York Psychoanalytic Society, ikut mendirikan jurnal tahunan The Psychoanalytic Study of the Child (1945) bersama Anna Freud dan Ernst Kris, dan menjabat Presiden International Psychoanalytical Association pada 1950-an sebelum diangkat menjadi presiden kehormatan seumur hidup. Ia wafat di Stony Point, New York, pada 1970.
Gagasan Kunci
1. Adaptasi dan lingkungan rata-rata yang dapat diharapkan
Versi awam: bayi manusia lahir "dirancang" untuk dunia tertentu: ada orang yang menggendong, memberi makan, mengajak bicara. Kemampuan bayi tumbuh dengan baik kalau dunia itu cukup tersedia, tidak harus sempurna.
Versi teknis: dalam Ego Psychology and the Problem of Adaptation (1939), Hartmann menyatakan bahwa bayi sudah ter-adaptasi sejak awal terhadap lingkungan rata-rata yang dapat diharapkan (average expectable environment). Adaptasi tidak hanya berarti menyesuaikan diri (aloplastik dan autoplastik), tetapi juga memilih lingkungan yang lebih cocok. Dengan konsep ini, psikoanalisis mendapat jembatan ke biologi, psikologi perkembangan, dan ilmu sosial, karena kini lingkungan nyata ikut diperhitungkan dalam teori.
2. Wilayah ego bebas-konflik
Versi awam: tidak semua yang kita lakukan adalah hasil pergulatan batin. Ada kemampuan yang berkembang "di jalur aman", seperti belajar bahasa atau berhitung.
Versi teknis: Hartmann memperkenalkan wilayah ego bebas-konflik (conflict-free ego sphere), yaitu sekumpulan fungsi seperti persepsi, intensi, pemahaman objek, berpikir, bahasa, ingatan, perkembangan motorik, dan proses belajar. Fungsi-fungsi ini berkembang tidak sebagai hasil konflik antara id dan superego, meskipun kelak bisa terseret ke dalam konflik. Gagasan ini memperluas psikoanalisis dari teori tentang neurosis menjadi apa yang ia sebut psikologi umum.
3. Otonomi primer dan otonomi sekunder
Versi awam: sebagian kemampuan kita adalah "bawaan pabrik", sebagian lain awalnya dibentuk oleh pergulatan batin tetapi lama-lama menjadi kebiasaan sehat yang berdiri sendiri.
Versi teknis: aparatus otonomi primer (primary autonomy) adalah perlengkapan bawaan ego, seperti persepsi, motilitas, dan ingatan, yang matang menurut jadwal biologisnya. Otonomi sekunder (secondary autonomy) terjadi ketika suatu pola yang awalnya lahir sebagai pertahanan terhadap konflik mengalami perubahan fungsi (change of function) dan menjadi struktur yang relatif mandiri, bahkan adaptif. Contohnya, kerapian yang dulunya formasi reaksi terhadap dorongan "berantakan" bisa berubah menjadi keterampilan kerja yang stabil.
4. Netralisasi
Versi awam: energi marah atau gairah bisa "dijinakkan" menjadi tenaga untuk bekerja, belajar, dan berkarya.
Versi teknis: Hartmann memperluas konsep sublimasi menjadi netralisasi (neutralization), yaitu proses ketika energi dorongan libido maupun agresi diubah menjadi energi yang dapat dipakai ego untuk fungsi-fungsinya. Dalam tulisan-tulisannya pada akhir 1940-an dan 1950-an, termasuk karya bersama Kris dan Loewenstein tentang teori agresi (1949), ia berargumen bahwa netralisasi agresi sama pentingnya dengan netralisasi libido. Konsep energi ini kemudian banyak dikritik, sebagaimana akan kita lihat.
5. Ego, self, dan representasi diri
Versi teknis singkat: dalam esai tahun 1950 tentang teori ego, Hartmann membedakan ego sebagai sistem psikis dari self sebagai keseluruhan pribadi, dan memperkenalkan istilah representasi diri (self-representation). Pembedaan ini kelak menjadi bahan penting bagi Edith Jacobson, Otto Kernberg, dan juga Heinz Kohut.
Sumbangan untuk Memahami Kepribadian
Dalam Paradigma Kepribadian, Hartmann menjadikan sekolah Psikologi Ego sebagai teori kepribadian yang utuh, bukan hanya teori konflik. Kepribadian dibentuk oleh tiga sumber: perlengkapan bawaan ego, konflik antara dorongan dan larangan, serta lingkungan nyata tempat anak tumbuh. Kesehatan jiwa tidak diukur dari tidak adanya konflik, melainkan dari kemampuan ego beradaptasi dan memakai fungsi-fungsinya secara fleksibel.
Cara pandang ini membuka jalan bagi penilaian ego secara terperinci. Jika ego terdiri dari banyak fungsi, maka masing-masing fungsi bisa dinilai kekuatan dan kelemahannya. Inilah jembatan langsung ke Asesmen Fungsi Ego (Ego Function Assessment) yang dikembangkan Leopold Bellak dan rekan-rekannya, dengan dua belas fungsi ego seperti uji realitas, penilaian, regulasi dorongan, dan fungsi sintetik-integratif. Pembaca yang ingin mempraktikkannya bisa membuka menu Asesmen Fungsi Ego dan Fungsi Ego di blog ini, dan mengenal Bellak dalam artikel tokoh-tokoh Psikologi Ego.
Dalam Keseharian dan Ruang Praktik
Contoh sehari-hari. Seorang mahasiswi tumbuh di rumah yang serba tidak menentu, sehingga sejak kecil ia sangat teliti mencatat segala hal agar tidak dimarahi. Kini, ketelitian itu menjadikannya asisten peneliti yang andal. Pola yang dulu lahir dari kecemasan telah mengalami perubahan fungsi dan mencapai otonomi sekunder: ia tetap teliti walau tidak sedang cemas.
Ilustrasi klinis (ilustrasi rekaan). Pak Darmo, 45 tahun, datang karena serangan cemas setelah dipindahtugaskan ke kota baru. Dalam asesmen, terapis menemukan bahwa uji realitas, ingatan, dan kemampuan kerjanya utuh; yang terganggu adalah regulasi afek dan toleransi terhadap ketidakpastian. Dengan kacamata Hartmann, terapis tidak hanya menelusuri konflik lama, tetapi juga menyandarkan diri pada wilayah bebas-konflik yang masih kuat, misalnya kebiasaannya menyusun rencana kerja, sebagai sekutu dalam terapi. Lingkungan baru yang jauh dari "rata-rata yang dapat diharapkan" baginya, tanpa keluarga dan teman, juga dibahas sebagai faktor nyata, bukan hanya fantasi.
Posisi dalam Peta Psikoanalisis
Guru dan pengaruh. Hartmann membangun teorinya di atas model struktural Sigmund Freud dan sejalan dengan buku Anna Freud tentang mekanisme pertahanan, yang terbit tiga tahun sebelumnya. Bedanya, Anna Freud menyoroti ego yang bertahan, sedangkan Hartmann menyoroti ego yang beradaptasi.
Kawan. Bersama Ernst Kris dan Rudolph Loewenstein, ia membentuk trio yang menulis serangkaian makalah bersama sejak 1946, misalnya tentang pembentukan struktur psikis. David Rapaport menerjemahkan dan menyebarkan karyanya, lalu menyistematisasikannya. Kisah mereka dibahas dalam artikel tokoh-tokoh Psikologi Ego.
Kritik. Kritik datang dari banyak arah. Jacques Lacan menuduh psikologi ego menjinakkan psikoanalisis menjadi teknik penyesuaian diri pada masyarakat (lihat Jacques Lacan). Dari dalam tradisi Amerika sendiri, George S. Klein dan Roy Schafer mempersoalkan bahasa energi seperti "netralisasi" yang dinilai sulit diuji. Belakangan, Psikologi Self dan pendekatan relasional menggeser fokus dari aparatus ego ke pengalaman diri dan hubungan. Meski demikian, banyak konsep Hartmann, seperti fungsi ego dan adaptasi, tetap hidup dalam praktik asesmen dan dalam psikiatri dinamis.
Istilah Penting
- Adaptasi (adaptation)
- Hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya; mencakup mengubah diri, mengubah lingkungan, dan memilih lingkungan.
- Lingkungan rata-rata yang dapat diharapkan (average expectable environment)
- Kondisi asuhan dan sosial yang wajar, tempat perlengkapan bawaan bayi dapat berkembang.
- Wilayah ego bebas-konflik (conflict-free ego sphere)
- Fungsi-fungsi ego yang berkembang tidak sebagai hasil konflik, seperti persepsi, bahasa, ingatan, dan gerak.
- Otonomi primer (primary autonomy)
- Kemandirian bawaan aparatus ego dari dorongan.
- Otonomi sekunder (secondary autonomy)
- Kemandirian yang dicapai ketika pola yang semula lahir dari konflik berubah fungsi menjadi struktur adaptif yang stabil.
- Netralisasi (neutralization)
- Perubahan energi dorongan, libido maupun agresi, menjadi energi yang dapat dipakai ego.
Saran Bacaan
- Heinz Hartmann, Ego Psychology and the Problem of Adaptation (1939; terjemahan Inggris oleh David Rapaport, 1958). Karya primer utama, cukup ringkas.
- Heinz Hartmann, Essays on Ego Psychology: Selected Problems in Psychoanalytic Theory (1964). Kumpulan esai, termasuk tentang ego, self, dan netralisasi.
- Gertrude Blanck & Rubin Blanck, Ego Psychology: Theory and Practice (1974). Pengantar sistematis yang ramah bagi mahasiswa dan praktisi.
- Stephen A. Mitchell & Margaret J. Black, Freud and Beyond: A History of Modern Psychoanalytic Thought (1995). Pengantar paling ramah pemula untuk menempatkan Hartmann di antara sekolah-sekolah lain.
Baca Juga
- Anna Freud: Mekanisme Pertahanan, Analisis Anak, dan Lahirnya Psikologi Ego
- Tokoh-Tokoh Psikologi Ego: Kris, Loewenstein, Rapaport, G.S. Klein, Bellak
- Peta Tokoh Psikoanalisis: 7 Sekolah dan Urutan Baca
- Heinz Kohut: Self, Empati, dan Lahirnya Psikologi Self
Ditulis oleh Ade Machnun untuk Belajar Psikoanalisis. Seri Tokoh Psikoanalisis.
No comments:
Post a Comment