Pernahkah Anda merasa "hilang bentuk" setelah dikritik di depan orang banyak? Atau justru merasa utuh dan bersemangat hanya karena seseorang yang Anda kagumi menatap Anda dengan bangga? Pengalaman semacam itu begitu biasa sehingga jarang kita pikirkan. Padahal di situlah salah satu pertanyaan besar psikoanalisis abad ke-20 bersemayam: mengapa rasa diri kita bisa begitu kokoh di satu saat dan begitu rapuh di saat lain?
Heinz Kohut, psikoanalis kelahiran Wina yang berkarier di Chicago, menjawab pertanyaan itu dengan cara yang mengubah peta psikoanalisis. Ia awalnya dikenal sebagai penjaga setia teori Freud, bahkan dijuluki "Mr. Psychoanalysis" oleh kolega-koleganya. Namun pengalaman di ruang praktik dengan pasien-pasien yang tidak cocok dengan teori lama mendorongnya merumuskan pendekatan baru: psikologi self (self psychology).
Dalam artikel ini kita akan berkenalan dengan riwayat Kohut, gagasan-gagasan kuncinya, dan alasan mengapa Institut Psikoanalisis Indonesia (IPI) menyebut psikologi self sebagai sekolah psikoanalisis pertama yang lahir di Amerika.
Kalau hanya ingat satu hal: menurut Kohut, rasa diri yang utuh tidak tumbuh sendirian; ia dibangun dan dipelihara sepanjang hidup lewat orang lain yang mau mencerminkan, menjadi panutan, dan menemani kita sebagai "sesama".
Kartu Identitas
| Nama lengkap | Heinz Kohut |
|---|---|
| Lahir | 3 Mei 1913, Wina, Austria |
| Wafat | 8 Oktober 1981, Chicago, Amerika Serikat |
| Asal/kota kerja | Wina, lalu Chicago (University of Chicago, Chicago Institute for Psychoanalysis) |
| Sekolah (peta IPI) | Psikologi Self (pendiri) |
| Karya kunci | The Analysis of the Self (1971); The Restoration of the Self (1977); How Does Analysis Cure? (1984, terbit setelah wafat) |
Riwayat Singkat
Kohut lahir di Wina pada 1913 dari keluarga Yahudi yang berpendidikan. Ia belajar kedokteran di Universitas Wina dan, menjelang akhir studinya, mulai menjalani analisis dengan August Aichhorn, psikoanalis yang terkenal karena kerjanya dengan remaja bermasalah. Aneksasi Austria oleh Nazi pada 1938 memaksanya pergi. Setelah sempat berada di Inggris, ia tiba di Amerika Serikat pada 1940 dan menetap di Chicago.
Di Chicago, Kohut mula-mula menekuni neurologi di University of Chicago, lalu beralih ke psikiatri dan psikoanalisis. Ia menjalani analisis lagi dengan Ruth Eissler dan menempuh pendidikan di Chicago Institute for Psychoanalysis, tempat ia kemudian mengajar selama puluhan tahun. Pada masa ini ia adalah tokoh arus utama: pemikir yang fasih dalam bahasa psikologi ego Heinz Hartmann, dan menjabat presiden American Psychoanalytic Association pada 1964–1965.
Titik baliknya datang dari ruang praktik. Kohut menemukan sekelompok pasien yang tidak mengalami konflik neurotik klasik, tetapi rasa diri yang rapuh: mudah merasa hampa, gampang tersinggung, dan bergantung pada kekaguman orang lain. Teori yang berlaku memandang mereka "terlalu narsistik" untuk dianalisis. Kohut justru mendengarkan lebih saksama, dan dari situ lahir The Analysis of the Self (1971). Enam tahun kemudian, The Restoration of the Self (1977) menegaskan bahwa ia tidak sekadar menambal teori Freud, tetapi menawarkan kerangka baru. Ia wafat di Chicago pada 1981; buku terakhirnya, How Does Analysis Cure?, terbit tiga tahun kemudian.
Gagasan Kunci
1. Empati sebagai metode pengamatan
Versi awam: untuk memahami pengalaman batin seseorang, kita harus berusaha merasakan dari dalam posisinya, bukan sekadar mengamati perilakunya dari luar.
Versi teknis: dalam makalah "Introspection, Empathy, and Psychoanalysis" (1959), Kohut berpendapat bahwa psikoanalisis didefinisikan oleh metode pengamatannya, yaitu introspeksi dan empati. Ia menyebut empati sebagai "introspeksi vikarius" (vicarious introspection): upaya memasuki pengalaman orang lain seolah-olah itu pengalaman kita sendiri. Penting dicatat, bagi Kohut empati adalah alat pengumpul data, bukan sikap baik hati semata. Empati bisa keliru dan perlu dikoreksi terus-menerus.
2. Selfobject
Versi awam: ada orang-orang yang kita alami bukan sebagai "orang lain" yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari penopang diri kita. Ketika mereka hadir dan tanggap, kita merasa utuh; ketika mereka gagal, kita goyah.
Versi teknis: selfobject adalah objek (orang, kadang juga ide atau karya) sejauh ia dialami sebagai menjalankan fungsi bagi self: menenangkan, mencerminkan, memberi arah. Kohut menekankan bahwa kebutuhan akan selfobject tidak hilang saat dewasa; yang berubah adalah bentuknya, dari kebutuhan yang bersifat menyatu ke hubungan yang lebih matang dan timbal balik. Inilah perbedaan tajam dengan pandangan yang menjadikan kemandirian penuh sebagai puncak perkembangan.
3. Self tripartit: tiga kebutuhan dasar
Versi awam: anak membutuhkan tiga hal dari lingkungannya: dilihat dan disambut dengan bangga, punya sosok kuat untuk dikagumi, dan merasa "sama" dengan orang lain.
Versi teknis: pada 1977 Kohut menggambarkan self yang bersifat bipolar. Kutub pertama adalah kutub ambisi, berakar pada self grandiose-eksibisionistik (grandiose-exhibitionistic self) yang butuh dicerminkan (mirroring). Kutub kedua adalah kutub ideal, berakar pada imago orang tua yang diidealkan (idealized parent imago), tempat anak "menumpang" pada ketenangan dan kekuatan sosok yang dikagumi. Di antara keduanya terbentang wilayah bakat dan keterampilan. Dalam karya terakhirnya (1984), Kohut menegaskan kebutuhan ketiga, yaitu kembaran atau alter-ego (twinship): kebutuhan merasakan keserupaan dengan manusia lain. Ketiganya sering diringkas sebagai self tripartit.
4. Transferensi cermin dan idealisasi
Versi awam: di ruang terapi, pasien tanpa sadar mencari dari terapis apa yang dulu kurang ia dapatkan, entah tatapan yang mengakui, entah sosok yang bisa dijadikan pegangan.
Versi teknis: Kohut membedakan transferensi cermin (mirror transference), ketika pasien membutuhkan analis untuk mengakui dan menyambut dirinya, dan transferensi idealisasi (idealizing transference), ketika pasien membutuhkan analis sebagai sosok tenang yang dapat diidealkan. Pada 1971 transferensi kembaran masih diperlakukan sebagai varian transferensi cermin; pada 1984 ia menjadi jenis tersendiri. Kohut menganjurkan agar transferensi ini dibiarkan berkembang, tidak buru-buru ditafsirkan sebagai pertahanan.
5. Kohesi, fragmentasi, dan cara self dipulihkan
Versi awam: rasa diri bisa terasa utuh, tetapi juga bisa "pecah" ketika kita kehilangan dukungan penting. Kemarahan meledak-ledak karena merasa dipermalukan sering kali adalah tanda retaknya diri, bukan sekadar sifat buruk.
Versi teknis: Kohut berbicara tentang kohesi self (self cohesion) dan fragmentasi (fragmentation), juga kemarahan narsistik (narcissistic rage, dibahas dalam makalah 1972). Pertumbuhan terjadi lewat internalisasi transmutasi (transmuting internalization): kegagalan kecil dan wajar dari selfobject (frustrasi optimal) mendorong anak, atau pasien, mengambil alih sedikit demi sedikit fungsi yang semula disediakan orang lain. Bila satu kutub rusak parah, self masih bisa pulih lewat struktur kompensasi (compensatory structures), yakni penguatan kutub lain. Menurut Kohut, analisis yang berhasil sering kali bekerja lewat jalur ini.
Sumbangan untuk Memahami Kepribadian
Dalam kerangka Paradigma Kepribadian, psikologi self menggeser pusat perhatian dari konflik dorongan (seks dan agresi) ke struktur self. Kepribadian dipahami terbentuk dari kualitas tanggapan lingkungan terhadap kebutuhan narsistik anak. Narsisme sendiri tidak dianggap tahap kekanak-kanakan yang harus ditinggalkan demi cinta objek, seperti dalam skema Freud, tetapi jalur perkembangan tersendiri yang bisa matang menjadi kreativitas, humor, empati, dan kearifan.
Akibatnya, gangguan kepribadian dibaca sebagai defisit struktur, bukan terutama sebagai hasil konflik. Agresi yang merusak, misalnya, dipandang sebagai produk pecahnya self, bukan dorongan primer. Kompleks Oedipus pun ditafsir ulang: ketika orang tua menanggapi anak dengan hangat dan bangga, fase Oedipal bisa dialami sebagai masa yang menggembirakan, bukan semata penuh kecemasan. Kohut tidak menolak pengalaman Oedipal; ia menolak anggapan bahwa patologinya tak terelakkan.
Dalam Keseharian dan Ruang Praktik
Contoh sehari-hari. Seorang karyawan baru bekerja dengan semangat ketika atasannya sesekali berkata, "Ini bagus, saya suka caramu berpikir." Saat atasan itu dipindahkan, ia mendadak lesu tanpa tahu sebabnya. Dari sudut pandang Kohut, sang atasan berfungsi sebagai selfobject pencermin. Kehilangannya bukan sekadar kehilangan rekan kerja, tetapi kehilangan penopang rasa diri.
Ilustrasi klinis (ilustrasi rekaan). Rina, 32 tahun, datang karena merasa hampa dan sering meledak marah pada pasangannya. Di bulan-bulan awal ia memuji terapisnya berlebihan, lalu tiba-tiba sangat tersinggung ketika terapis mengubah jadwal satu sesi. Pendekatan psikologi self tidak segera menafsirkan kemarahan itu sebagai serangan. Terapis lebih dulu mengakui bahwa perubahan jadwal mungkin terasa seperti ditinggalkan oleh sosok yang ia andalkan. Ketika Rina merasa dipahami, kemarahannya mereda dan muncul ingatan tentang ayah yang dulu ia kagumi tetapi sering pergi tanpa kabar. Retak dan pulihnya hubungan terapeutik menjadi bahan utama kerja analisis.
Posisi dalam Peta Psikoanalisis
Kohut berangkat dari tradisi Freud dan psikologi ego Heinz Hartmann; Aichhorn, analis pertamanya, adalah sosok yang dekat dengan lingkaran Anna Freud. Lawan debat terpentingnya adalah Otto Kernberg, yang juga meneliti narsisme tetapi melihatnya sebagai struktur patologis yang sarat agresi dan perlu dikonfrontasi. Perdebatan Kohut–Kernberg pada 1970-an menjadi salah satu diskusi klinis paling berpengaruh dalam psikoanalisis Amerika.
Kritik terhadap Kohut cukup tajam. Sebagian analis menilai ia meremehkan dorongan dan konflik, terutama agresi, serta berisiko membuat terapi terlalu "memuaskan" pasien. Ada pula perdebatan sejarah: kasus terkenal "The Two Analyses of Mr Z" (1979) diduga sejumlah sarjana, termasuk penulis biografinya Charles Strozier, sebagian besar bersifat otobiografis. Kritik lain mencatat bahwa ia jarang mengakui kemiripan gagasannya dengan pemikir Inggris seperti Donald Winnicott.
Penerusnya beragam: Arnold Goldberg, Paul dan Anna Ornstein, Ernest Wolf, Joseph Lichtenberg, hingga Robert Stolorow, George Atwood, dan Frank Lachmann yang membawa gagasannya ke arah intersubjektif dan riset bayi (lihat Tokoh-Tokoh Psikologi Self). IPI mencatat dua hal: psikologi self adalah sekolah psikoanalisis pertama yang lahir di Amerika, dan ia menjadi cikal bakal gerakan relasional (relational movement) yang kini berpengaruh luas.
Istilah Penting
- Selfobject
- Orang atau hal yang dialami sebagai bagian dari penopang self, menjalankan fungsi seperti mencerminkan, menenangkan, atau menjadi panutan.
- Pencerminan (mirroring)
- Tanggapan yang mengakui dan menyambut keberadaan serta pencapaian seseorang.
- Imago orang tua yang diidealkan (idealized parent imago)
- Sosok kuat dan tenang yang dikagumi, tempat anak meminjam rasa aman dan arah.
- Kembaran/alter-ego (twinship)
- Kebutuhan merasakan keserupaan dengan orang lain; "aku seperti kamu".
- Fragmentasi self
- Keadaan ketika rasa diri kehilangan keutuhan, sering tampak sebagai kecemasan hebat, kehampaan, atau kemarahan narsistik.
- Internalisasi transmutasi
- Proses bertahap ketika kegagalan kecil selfobject mendorong self membangun sendiri fungsi yang semula disediakan dari luar.
- Struktur kompensasi
- Penguatan satu kutub self untuk menutupi kerusakan pada kutub lain.
Saran Bacaan
- Kohut, H. (1959). "Introspection, Empathy, and Psychoanalysis." Journal of the American Psychoanalytic Association, 7.
- Kohut, H. (1971). The Analysis of the Self. New York: International Universities Press.
- Kohut, H. (1977). The Restoration of the Self. New York: International Universities Press.
- Kohut, H. (1979). "The Two Analyses of Mr Z." International Journal of Psycho-Analysis, 60.
- Kohut, H. (1984). How Does Analysis Cure? (A. Goldberg, ed.). Chicago: University of Chicago Press.
- Pengantar ramah pemula: Siegel, A. M. (1996). Heinz Kohut and the Psychology of the Self. London: Routledge.
- Pengantar klinis: Wolf, E. S. (1988). Treating the Self: Elements of Clinical Self Psychology. New York: Guilford.
- Biografi: Strozier, C. B. (2001). Heinz Kohut: The Making of a Psychoanalyst. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Baca Juga
- Tokoh-Tokoh Psikologi Self: Stolorow, Atwood, Lachmann
- Heinz Hartmann dan Psikologi Ego
- Donald Winnicott: Ibu yang Cukup Baik
- Peta Tokoh Psikoanalisis: 7 Sekolah
Ditulis oleh Ade Machnun untuk Belajar Psikoanalisis. Seri Tokoh Psikoanalisis.
No comments:
Post a Comment