Sebuah aliran pemikiran jarang berhenti di tangan pendirinya. Heinz Kohut meletakkan dasar psikologi self di Chicago pada 1970-an, tetapi gagasannya kemudian dikembangkan, dikritik, dan dibawa ke arah yang tidak sepenuhnya ia bayangkan. Tiga nama dalam artikel ini mewakili arah-arah itu: Robert Stolorow dan George Atwood dengan teori intersubjektif, serta Frank Lachmann yang menjembatani psikologi self dengan riset tentang bayi.
Mengenal mereka penting karena dua alasan. Pertama, merekalah yang membuat psikologi self tetap hidup setelah Kohut wafat pada 1981. Kedua, lewat merekalah kita bisa memahami mengapa Institut Psikoanalisis Indonesia (IPI) menyebut psikologi self sebagai cikal bakal gerakan relasional dalam psikoanalisis kontemporer.
Sekilas Psikologi Self
Psikologi self (self psychology) adalah sekolah yang menempatkan rasa diri, bukan konflik dorongan, di pusat pemahaman tentang kepribadian. Kohut berpendapat bahwa self tumbuh dan bertahan lewat hubungan dengan selfobject, yaitu orang-orang yang dialami sebagai penopang diri karena mencerminkan, menjadi panutan, atau menemani sebagai "sesama". Metode pengamatannya adalah empati: memahami pengalaman pasien dari dalam. Menurut catatan IPI, psikologi self adalah sekolah psikoanalisis pertama yang lahir di Amerika.
Bila Anda belum membaca profil pendirinya, mulailah dari Heinz Kohut: Bapak Psikologi Self. Artikel ini mengandaikan Anda sudah akrab dengan istilah selfobject, transferensi cermin, dan transferensi idealisasi.
Robert Stolorow
| Lahir | 1942, Amerika Serikat |
|---|---|
| Asal/kota kerja | Amerika Serikat (New York, lalu Los Angeles) |
| Karya kunci | Faces in a Cloud (1979, bersama Atwood); Psychoanalytic Treatment: An Intersubjective Approach (1987, bersama Brandchaft dan Atwood); Contexts of Being (1992, bersama Atwood); Trauma and Human Existence (2007) |
Robert D. Stolorow adalah psikoanalis dan filsuf Amerika yang paling dikenal sebagai penggagas teori intersubjektif (intersubjectivity theory) bersama George Atwood. Ia mula-mula bekerja dekat dengan lingkungan psikologi self dan menulis bersama Frank Lachmann buku Psychoanalysis of Developmental Arrests (1980), yang membahas pasien dengan hambatan perkembangan, bukan konflik neurotik klasik.
Gagasan pokoknya: pengalaman psikologis selalu muncul dalam medan intersubjektif (intersubjective field), yaitu pertemuan dua dunia subjektif yang saling memengaruhi. Dalam ruang praktik, ini berarti apa yang terjadi pada pasien tidak bisa dipahami terlepas dari dunia subjektif analis. Stolorow dan Atwood mengkritik apa yang mereka sebut "mitos pikiran yang terisolasi" (myth of the isolated mind), yakni anggapan bahwa jiwa adalah wadah tertutup berisi dorongan dan fantasi yang bisa diamati dari luar secara netral. Mereka juga mengganti konsep ketidaksadaran yang direpresi dengan gagasan prinsip pengorganisasi (organizing principles) yang bekerja tanpa disadari dan menata cara seseorang mengalami dunia.
Sumbangan Stolorow yang paling menyentuh menyangkut trauma. Ia berpendapat bahwa trauma perkembangan bukan semata peristiwa yang terlalu berat, tetapi perasaan menyakitkan yang tidak menemukan rumah, yaitu tidak ada lingkungan yang cukup tanggap untuk menampungnya. Gagasan ini ia kembangkan juga dari pengalaman pribadi kehilangan istrinya, Dede, pada awal 1990-an, dan kemudian ia kaitkan dengan filsafat eksistensial Martin Heidegger. Relevansinya hari ini jelas: banyak pendekatan trauma kontemporer menekankan hal serupa, bahwa yang melukai bukan hanya peristiwanya, tetapi kesendirian dalam menanggungnya.
George Atwood
| Lahir | 1944, Carlsbad, New Mexico, Amerika Serikat |
|---|---|
| Asal/kota kerja | Rutgers University, New Jersey (profesor psikologi klinis) |
| Karya kunci | Faces in a Cloud (1979, bersama Stolorow); Structures of Subjectivity (1984, bersama Stolorow); The Abyss of Madness (2012) |
George E. Atwood adalah psikolog klinis yang mengajar di Rutgers University selama lebih dari empat dekade. Ia meraih doktor dari University of Oregon dan merupakan salah satu anggota pendiri pengajar di Institute for the Psychoanalytic Study of Subjectivity di New York. Nama Atwood tidak bisa dipisahkan dari Stolorow; keduanya menulis bersama sejak 1970-an.
Buku mereka yang paling orisinal adalah Faces in a Cloud (1979). Di sini Atwood dan Stolorow mengajukan pertanyaan yang berani: mengapa Freud, Jung, Wilhelm Reich, dan Otto Rank menyusun teori kepribadian yang begitu berbeda? Jawaban mereka, setiap teori kepribadian ikut dibentuk oleh dunia subjektif penyusunnya, termasuk pengalaman masa kecil dan luka pribadinya. Ini bukan upaya merendahkan teori-teori itu, melainkan ajakan rendah hati: teoretikus, termasuk analis di ruang praktik, tidak pernah berdiri di luar subjektivitasnya sendiri. Edisi revisinya (1993) diberi anak judul Intersubjectivity in Personality Theory.
Di luar karya bersama itu, Atwood dikenal karena kerjanya dengan pasien yang mengalami psikosis. Dalam The Abyss of Madness (2012) ia mendekati pengalaman yang biasa disebut "gila" dengan sikap fenomenologis: mencoba memahami makna dan logika pengalaman itu dari dalam, alih-alih langsung memberinya label. Bagi mahasiswa psikologi, Atwood memberi contoh bahwa empati ala Kohut bisa diperluas bahkan ke wilayah pengalaman yang paling asing.
Frank Lachmann
| Lahir | 1929, Breslau, Jerman (kini Wrocław, Polandia); pindah ke Amerika Serikat pada 1938 |
|---|---|
| Asal/kota kerja | New York (Institute for the Psychoanalytic Study of Subjectivity; NYU Postdoctoral Program) |
| Karya kunci | Psychoanalysis of Developmental Arrests (1980, bersama Stolorow); Infant Research and Adult Treatment (2002, bersama Beatrice Beebe); Transforming Narcissism (2008); The Origins of Attachment (2014, bersama Beebe) |
Frank M. Lachmann lahir di Jerman dan datang ke Amerika Serikat sebagai anak pada 1938, masa ketika banyak keluarga Yahudi menyelamatkan diri dari Nazi. Ia menempuh pendidikan psikologi di New York University dan Northwestern University, lalu berpraktik sebagai psikoanalis di New York. Ia termasuk anggota pendiri pengajar Institute for the Psychoanalytic Study of Subjectivity dan menulis lebih dari seratus artikel ilmiah.
Sumbangan terbesarnya lahir dari kerja sama panjang dengan Beatrice Beebe, peneliti bayi yang merekam interaksi tatap muka ibu dan bayi lalu menganalisisnya detik demi detik. Dari data itu, Beebe dan Lachmann menunjukkan bahwa sejak awal kehidupan, bayi dan pengasuh saling mengatur satu sama lain. Mereka membedakan regulasi diri (self-regulation) dan regulasi interaktif (interactive regulation), serta menyoroti pentingnya pola keretakan dan perbaikan (disruption and repair). Yang menarik, mereka berpendapat bahwa pola-pola ini juga berlangsung antara pasien dewasa dan analis, sering tanpa kata, lewat irama bicara, ekspresi wajah, dan jeda.
Lachmann juga terlibat dalam pengembangan teori sistem motivasi bersama Joseph Lichtenberg dan James Fosshage (Self and Motivational Systems, 1992). Dalam bukunya sendiri, Transforming Aggression (2000) dan Transforming Narcissism (2008), ia menunjukkan bagaimana pendekatan psikologi self dapat diterapkan pada pasien yang sulit ditangani. Beebe dan Lachmann juga merumuskan tiga prinsip yang menurut mereka membuat sebuah interaksi bermakna bagi perkembangan: pola regulasi yang berlangsung terus-menerus dalam keseharian, momen keretakan yang diikuti perbaikan, dan momen afektif yang sangat intens. Ketiganya bisa dipakai analis untuk membaca apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan pasien, bukan hanya apa yang dikatakan. Relevansinya hari ini: penelitian Beebe–Lachmann menjadi salah satu jembatan terkuat antara psikoanalisis dan ilmu perkembangan empiris, termasuk riset keterikatan (attachment).
Benang Merah
Apa yang menyatukan ketiga tokoh ini? Pertama, mereka semua mewarisi keyakinan Kohut bahwa empati adalah jalan masuk utama ke dunia batin, dan bahwa self tumbuh dalam hubungan. Kedua, mereka sama-sama bergerak menjauh dari gambaran pasien sebagai "pikiran yang terisolasi". Stolorow dan Atwood melakukannya lewat filsafat dan fenomenologi; Lachmann lewat riset bayi yang memperlihatkan bahwa regulasi diri selalu terjalin dengan regulasi bersama orang lain.
Ketiga, mereka menggeser posisi analis. Analis tidak lagi dibayangkan sebagai pengamat netral yang menafsirkan dari luar, tetapi sebagai partisipan yang ikut membentuk medan pengalaman bersama pasien. Pergeseran inilah yang membuat psikologi self, sebagaimana dicatat IPI, menjadi salah satu cikal bakal gerakan relasional. Perlu dicatat, para penganut psikologi self tidak selalu sepakat: sebagian pengikut Kohut yang lebih "klasik" menilai teori intersubjektif terlalu jauh meninggalkan konsep-konsep dasar Kohut, sementara Stolorow sendiri menganggap psikologi self masih menyimpan sisa-sisa pandangan pikiran yang terisolasi.
Bagaimana perbedaan ini terlihat di ruang praktik? Bayangkan seorang pasien yang tiba-tiba diam dan dingin setelah analisnya melirik jam (ilustrasi rekaan). Pembacaan klasik mungkin langsung menafsirkan diamnya sebagai resistensi. Kohut akan bertanya apakah pasien mengalami lirikan itu sebagai kegagalan pencerminan. Stolorow dan Atwood akan menambahkan: prinsip pengorganisasi apa yang membuat pasien memaknai lirikan itu sebagai penolakan, dan apa yang sedang berlangsung dalam dunia subjektif analis sehingga ia melirik jam pada saat itu? Lachmann akan memperhatikan irama mikro interaksi: kapan tepatnya wajah pasien berubah, dan bagaimana keduanya bisa memperbaiki keretakan kecil itu bersama-sama.
Bagi pembaca yang menekuni Paradigma Kepribadian, pelajarannya sederhana tetapi dalam: kepribadian tidak hanya "ada di dalam" seseorang, melainkan juga terus dibentuk di antara orang-orang.
Saran Bacaan
- Atwood, G. E., & Stolorow, R. D. (1979). Faces in a Cloud: Subjectivity in Personality Theory. New York: Jason Aronson. (Edisi revisi 1993: Faces in a Cloud: Intersubjectivity in Personality Theory.)
- Stolorow, R. D., Brandchaft, B., & Atwood, G. E. (1987). Psychoanalytic Treatment: An Intersubjective Approach. Hillsdale, NJ: Analytic Press.
- Stolorow, R. D., & Atwood, G. E. (1992). Contexts of Being: The Intersubjective Foundations of Psychological Life. Hillsdale, NJ: Analytic Press.
- Stolorow, R. D. (2007). Trauma and Human Existence. New York: Analytic Press. (Pendek dan relatif ramah pemula.)
- Beebe, B., & Lachmann, F. M. (2002). Infant Research and Adult Treatment: Co-constructing Interactions. Hillsdale, NJ: Analytic Press.
- Lachmann, F. M. (2008). Transforming Narcissism: Reflections on Empathy, Humor, and Expectations. New York: Analytic Press.
Baca Juga
- Heinz Kohut: Bapak Psikologi Self
- Donald Winnicott: Ibu yang Cukup Baik
- Tokoh-Tokoh Kelompok Independen
- Peta Tokoh Psikoanalisis: 7 Sekolah
Ditulis oleh Ade Machnun untuk Belajar Psikoanalisis. Seri Tokoh Psikoanalisis.
No comments:
Post a Comment